Hikmah di Tengah Perjalanan Luqman dan Anaknya

0
Cerita Islami, hikmah, kisah lukman
Image by franck JUILLARD from Pixabay

Surat Al-Qur'an mengabadikan nama seorang bijak bernama Luqman. Salah satu nasihat terkenal yang diberikan Luqman kepada anaknya adalah untuk selalu bersyukur kepada Allah. Luqman mengatakan bahwa tidak ada takdir yang buruk karena Allah sudah memperhitungkan semuanya dengan baik. Luqman menasihati anaknya yang dikisahkan oleh Said bin Musayyab, bahwa apa pun yang Allah berikan, baik yang disukai maupun yang tidak disukai, adalah yang terbaik. 


Sebagaimana ditulis oleh Imam Ibnul Jauzy dalam Kitab "Uyunul Hikayat" (Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, 1971, halaman 109-110), anaknya Luqman berkata, "Wahai ayah, saya belum bisa melakukannya sebelum saya membuktikannya sendiri."


Setelah mendengar hal itu, Luqman mengajak anaknya untuk menemui seorang nabi saat itu agar mereka dapat mendapatkan penjelasan yang lebih rinci dan memperoleh pemahaman yang holistik.


Anaknya berkata, "Mari ayah, kita temui nabi tersebut."


Setelah mereka mencapai kesepakatan, keduanya mulai mempersiapkan diri untuk bertemu dengan sang nabi. Mengingat jarak yang cukup jauh dan sulit yang akan dilalui, banyak hal telah disiapkan, termasuk dua ekor keledai yang akan menjadi tunggangan Luqman dan anaknya. 


Baca juga: TAHUN BARU 2024: RENJANA JIWA PENDOSA


Kedua orang sampai di sebuah gurun yang sangat tandus setelah berhari-hari menempuh perjalanan. Energi Luqman dan anaknya mulai berkurang ketika bekal makanan dan minuman semakin menipis.  Selain itu, dua keledai yang ditunggangi semakin lambat. Kemudian mereka memutuskan untuk turun dari keledai dan jalan kaki. Dalam situasi seperti itu, Luqman melihat bayangan hitam dan asap menggumpal jauh di depannya. Dalam hatinya, dia mengatakan, "Bayangan hitam berarti pohon, dan asap berarti pemukiman penduduk."

Kedua orang terus berjalan agar mereka bisa segera sampai ke pemukiman. Anak Luqman menginjak tulang saat berjalan, membuatnya terjatuh dan pingsan. Luqman sendiri tetap fokus pada perjalanannya dan percaya semuanya baik-baik saja. Luqman baru menyadari bahwa anaknya terjatuh dan pingsan saat dia menoleh ke belakang. Dia langsung menuju anaknya. Luqman mencabut tulang itu dengan giginya sambil menangis, kemudian menyobek surbannya untuk membungkus kaki anaknya yang terluka. Air mata Luqman menetes ke pipi anaknya saat dia menatap wajahnya hingga membuat anak kesayangannya itu siuman.


"Anakku, aku menangis karena perasaan sedih seorang ayah kepada anaknya," kata Luqman sambil mengeluh kepada anaknya karena semua bekal sudah habis dan keduanya masih di tengah gurun pasir. "Ayah mengapa menangis, bukannya apa yang menimpa saya ini adalah yang terbaik?". "Kita mungkin akan mendapatkan jawaban di masa mendatang untuk pertanyaanmu tentang bagaimana kejadian ini dapat bermanfaat bagi kita". Luqman melanjutkan untuk menenangkan anaknya dengan berkata, "Bisa jadi musibah ini lebih ringan daripada musibah yang ada di depan sana, sehingga Allah menghentikan kita di sini dengan musibah ini."

Baca juga: KHALIFAH UMAR BIN KHATTAB: PENTINGNYA MENJAGA TOLERANSI UMAT BERAGAMA


Luqman menoleh ke depan setelah menenangkan anaknya. Ternyata bayangan hitam dan asap yang dia lihat sebelumnya hilang. Luqman berkata dalam hatinya, "Sudahlah. Mungkin Allah sudah menyiapkan rencana lain." Tidak lama kemudian, orang berpakaian putih muncul dari jauh menunggangi kuda. Luqman tetap mengamati sosok yang semakin mendekatinya. Sebenarnya, ketika kami sudah dekat, sosok itu sepertinya menghilang, tetapi suaranya masih terdengar. "Apakah kamu Luqman?" tanya orang yang tidak terlihat itu. "Iya benar, saya Luqman." 


Wahai hamba Allah, siapa sebenarnya engkau? "Saya bisa mendengar suaramu tapi tidak melihat wujudmu," kata orang itu. "Aku Jibril, hanya malaikat Muqarrabun dan Nabi saja yang bisa melihatku," kata Jibril. "Jika kamu Jibril, tentu kamu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,". Tidak lama kemudian, Jibril mengetahui bahwa Luqman dan anaknya sedang berjalan menuju kota. Kemudian, Jibril meminta kepada Allah agar Luqman dan anaknya ditahan supaya mereka tidak sampai di kota dan tidak ikut luluh lantak bersama orang-orang di sekitarnya. Setelah kaki Luqman yang terluka diusap oleh Jibril, kakinya segera sembuh seperti sedia kala. Setelah diusap oleh Jibril, tempat makanan dan minuman yang dibawa Luqman juga penuh. Tidak lama kemudian, Jibril mengangkat keduanya dan mengembalikannya ke kota di mana mereka pertama kali tinggal. Kisah ini mengajarkan kita bahwa ada hikmah tersembunyi di setiap hal, dan bahwa takdir yang buruk tidak ada. Mungkin hari ini, esok, atau bahkan beberapa waktu kemudian, Anda akan menemukan manfaatnya.


Wallahua'lam
Tags

Post a Comment

0 Comments
Post a Comment (0)
To Top