![]() |
| Maskot Pemilu 2024 |
Di tengah dekatnya waktu menuju pemilihan umum pada tanggal 14
Februari 2024, peran masyarakat dalam menentukan pemimpin yang tepat menjadi
semakin penting. Memilih pemimpin yang adil bukan hanya sekadar tugas,
melainkan sebuah tanggung jawab untuk membentuk masa depan indonesia yang lebih
baik. Setiap pilihan dalam proses ini memiliki dampak yang besar terhadap arah
negara ke depannya, oleh karena itu, memahami kriteria pemimpin yang adil
menjadi hal yang sangat penting dalam menentukan masa depan bangsa.
Dalam buku Islam dan Politik, Profesor Quraish Shihab Quraish
Shihab, [Ciputat, Lentera Hati: 2023], halaman 192, mencatat nasihat
Al-Hasan Al-Bashri tentang pentingnya berlaku adil saat memimpin. Rekomendasi
ini seperti cahaya yang menerangi jalan para pemimpin dalam menjalankan
tanggung jawab moral mereka.
Baca Juga: Rahasia Meminum Kopi di Pagi Hari: Tips Sehat untuk Memulai Hari Anda
Hasan Al-Bashri mengatakan bahwa ada tiga analogi tentang
pemimpin yang adil. Pertama, pemimpin yang adil tidak hanya adil tetapi juga
melindungi rakyatnya. Mengangkat pemimpin yang ditujukan
agar "meluruskan yang bengkok, menegakkan keadilan, memperbaiki
kerusakan, memberi kekuatan kepada yang lemah, dan menjadi tempat berlindung
bagi yang takut dan berharap". Ini adalah gambaran yang sempurna dari
seorang pemimpin yang selalu berusaha untuk kesejahteraan dan kebaikan rakyat.
Pemimpin yang adil tidak hanya mengatur tetapi juga menjaga dan
membela rakyatnya. Ia memiliki kemampuan untuk melindungi dan memberdayakan
daripada menindas. Ia adalah orang yang diciptakan untuk menghapus semua jenis
ketidakadilan, menegakkan keadilan atas kezaliman, memperbaiki kerusakan,
menjadi kekuatan bagi mereka yang lemah, dan menjadi tempat perlindungan bagi
mereka yang dihantui ketakutan dan harapan.
Kedua, pemimpin yang adil diibaratkan dengan pengembala yang
baik hati. Al-Hasan Al-Bashri kemudian menggambarkan seorang penggembala yang
sangat mencintai gembalaannya sebagai pemimpin yang adil. Dia percaya bahwa
rakyat adalah amanah yang harus dijaga dan dilindungi. Selain menjauhkan mereka
dari bahaya dan kebinasaan, ia membawa mereka ke arah kebaikan dan
kemakmuran. Pemimpin yang adil tidak
hanya memerintah tetapi juga memberi contoh dan teladan bagi orang lain.
Ia menjamin keamanan dan memenuhi kebutuhan rakyatnya dengan mengayomi mereka
dengan kasih sayang dan kepedulian.
Ketiga, seorang imam yang adil sebagaimana seorang ayah yang
bertanggung jawab atas anak-anaknya. Pemimpin yang adil bekerja keras untuk
memenuhi kebutuhan rakyatnya mereka secara keeluruhan. Ia tidak hanya
memberi mereka nafkah, tetapi juga mengajarkan mereka cara menjadi orang yang
baik.
Baca Juga: Varian COVID-19 Baru JN.1 Memperkuat Cengkeramannya di AS (Amerika Serikat)
Pemimpin yang adil tidak hanya memerintah tetapi juga memberi
contoh dan teladan bagi orang lain. Ia bekerja dengan penuh dedikasi dan
tanggung jawab untuk kepentingan rakyatnya, menjamin kesehatan mereka saat ini
dan menyiapkan mereka untuk masa depan yang lebih baik.
Sementara itu, Al-Hasan Al-Bashri menasehati Umar bin Abdul
Aziz, Amirul Mukminin, untuk memerintah dengan cara yang adil dan bijaksana,
dan menghindari tindakan zalim dan tidak bermoral, menurut Syekh Ahmad Hasyimi
dalam kitab Jawahirul Adab fi Adbiyati wa Insyai Lughatil 'Arab, [Maktabah
Fahrasatul Kamilah: 1969], halaman 341)
“Janganlah, wahai Amirul Mukminin, engkau memerintah hamba-hamba
Allah dengan hukum yang diterapkan oleh orang-orang jahil. Jangan juga menempuh
jalan orang-orang yang berlaku aniaya. Jangan beri peluang para pendurhaka
terhadap kaum lemah, karena mereka itu tidak memelihara hubungan kekerabatan dengan
orang mukmin, tidak juga mengindahkan perjanjian, karena jika engkau
memberi peluang itu maka engkau skan memikul dosa-dosamu dan juga dosadosa
(mereka) bersama dosamu. Engkau akan memikul beban-bebanmu bersama beban-beban
selainmu!”
“Janganlah teperdaya dengan mereka yang menikmati hal-hal yang
menjadi sumber kesengsaraanmu. Mereka menikmati aneka kebaikan di dunia mereka
dengan menyingkirkan kebajikan yang berkaitan dengan akhiratmu. Jangan
memandang kepada kemampuanmu hari ini tetapi lihatlah kemampuanmu esok saat
engkau disandera dalam tali-temali maut, berdiri di hadapan Allah dalam
himpunan para malaikat, para nabi dan rasul, di mana semua wajah tertunduk di
hadapan Tuhan yang Maha Hidup dan Maha Berdiri sendiri lagi Maha Mengurus semua
makhluk.”
Memilih pemimpin yang baik memerlukan perhatian pada beberapa
kualitas penting. Pemimpin yang diinginkan haruslah memiliki integritas tinggi,
visi yang jelas, dan kemampuan memahami serta merespons kebutuhan masyarakat.
Mereka harus mampu mengambil keputusan yang tepat, berkomunikasi secara
terbuka, dan berkomitmen pada keadilan sosial. Pengalaman, dukungan masyarakat,
serta evaluasi kinerja dan program juga menjadi pertimbangan penting dalam
proses pemilihan. Dengan partisipasi aktif dalam proses pemilihan, diharapkan
masyarakat dapat memilih pemimpin yang mampu membawa perubahan positif dan
memajukan kepentingan bersama.
Baca Juga: KHALIFAH UMAR BIN KHATTAB: PENTINGNYA MENJAGA TOLERANSI UMAT BERAGAMA
Semoga dalam pemilihan presiden tanggal 14 Februari 2024 mendatang
di Indonesia, masyarakat dapat memilih pemimpin yang sesuai dengan ciri-ciri
yang telah diuraikan sebelumnya. Semoga pemimpin yang terpilih memiliki
integritas yang tinggi, visi yang jelas, serta kemampuan memahami dan merespons
kebutuhan masyarakat. Diharapkan pemimpin yang terpilih mampu mengambil
keputusan yang tepat, berkomunikasi terbuka, dan komitmen pada keadilan sosial.
Dengan proses pemilihan yang berpartisipasi aktif, semoga Indonesia akan
dipimpin oleh pemimpin yang mampu membawa perubahan positif dan memajukan
kepentingan bersama

