Moralitas sebagai Fondasi Peradaban: Fokus Dakwah Nabi Muhammad dalam Meningkatkan Etika Manusia

0
Dakwah Nabi Muhammad

Ketika Nabi Muhammad diutus ke jazirah Arab untuk pertama kalinya, ajarannya sebagai utusan Allah mencakup setidaknya tiga misi. 

Pertama, meluruskan ketidaksesuaian Aqidah. Nabi Muhammad sebenarnya tidak membaawa syariat baru. Beliau diutus untuk menegakkan ajaran Allah yang telah diajarkan kepada para nabi sebelumnya. Salah satunya adalah mengajarkan tauhid, atau keesaan Allah (monoteisme) kepada orang lain. Bangsa Arab memahami dan mengakui ajaran tauhid. 

Dalam Al-Quran QS. al-Ankabut: 61 dicatat bahwa ketika orang ditanya siapakah Tuhan yang Esa, mereka menjawab, "Allah Tuhan Yang Esa."Dan jika engkau (Muhammad) bertanya kepada orang musyrik: "Siapakah Yang menciptakan langit dan bumi, dan menundukkan matahari dan bulan?" Mereka pasti akan menjawab: "Allah." Jadi bagaimana mereka bisa menyimpang dari kebenaran?

Namun, bangsa Arab justru menjauhkan agama mereka dari tauhid. Hal ini terbukti dengan cara mereka menyembah berhala sebagai ibadah, menjadikan mereka sebagai tuhan yang harus disembah, sesuatu yang jelas bertentangan dengan ajaran tauhid.

Baca Juga: "Mengungkap Rahasia Kesehatan Tersembunyi di Balik Manisnya Kurma: Manfaat Luar Biasa untuk Tubuh Anda!"

Sistematika sosial kemasyarakatan dirusak oleh perbuatan syirik yang dilakukan oleh orang Arab. Mereka bukan saja menyimpang dari keesaan Tuhan, tetapi mereka juga menyimpang dari hukum-hukum yang telah diberikan oleh para nabi sebelumnya. Pada akhirnya, hukum manusia menggantikan hukum Tuhan.

Penyimpangan akidah dari ajaran para nabi adalah penyebab utama runtuhnya struktur sosial bangsa Arab pada saat itu. Dengan kedatangan agama Islam, orang Arab diminta untuk kembali ke jalan yang digariskan oleh para nabi terdahulu. Fokus utama dakwah Nabi saw adalah ajaran tauhid. Dia kemudian membangun keyakinan untuk kembali ke hukum Allah sebagai satu-satunya hukum. 

Kedua, meningkatkan etika anak manusia. Untuk alasan apa fokus dakwahnya adalah moralitas? Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa moralitas adalah dasar bagi pembentukan suatu masyarakat sosial yang berkeadilan, damai, dan sejahtera. Kehidupan dapat diperbaiki dengan moralitas.

Sebagaimana dikatakan dalam surat an-Nisa ayat 47, Al-Quran menegaskan kebenaran Taurat dan Injil. 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اٰمِنُوْا بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّطْمِسَ وُجُوْهًا فَنَرُدَّهَا عَلٰٓى اَدْبَارِهَآ اَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّآ اَصْحٰبَ السَّبْتِۗ وَكَانَ اَمْرُ اللّٰهِ مَفْعُوْلًا

“Wahai orang-orang yang telah diberi Kitab, berimanlah pada apa yang telah Kami turunkan (Al-Qur’an) yang membenarkan Kitab yang ada padamu sebelum Kami mengubah wajah-wajah(-mu), lalu Kami putar ke belakang (sebagai penghinaan) atau Kami laknat mereka sebagaimana Kami melaknat orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabat (Sabtu). Ketetapan Allah (pasti) berlaku.” (QS an-Nisa : 47).

Semua nabi menyampaikan pesan yang sama, yakni mengajarkan tentang keesaan Tuhan dan  perwujudannya terutama dalam hukum moral. Ini adalah ciri Islam. Isa as, Adam, Nuh, Ya'kub, Syu'aib, Sulaiman, dan Sulaiman adalah semua orang yang beragama Islam. Semua contoh ini, seperti Musa yang berjuang melawan keangkuhan dan kezaliman, Luth yang menolak budaya homoseksual, dan Sulaiman yang mengajak Ratu Saba masuk Islam, menginspirasi penerapan hukum moral Islam.

Baca Juga: "Rahasia Meminum Kopi di Pagi Hari: Tips Sehat untuk Memulai Hari Anda"

Ketiga, perlindungan Hak Asasi Manusia Hak Asasi Manusia dianggap sebagai hak dasar setiap orang dalam Islam. Tidak ada kesempatan sedikit pun bagi seseorang untuk merampas hak orang lain. Islam mempertahankan hak hidup dan hak sosial setiap orang.

Di antara nilai-nilai humanisme yang menonjol dalam dakwah Nabi Muhammad, persamaan hak, persaudaraan, dan perdamaian terus ditanamkan dalam masyarakat Arab pada masa itu. Ajaran ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran manusia bahwa setiap orang memiliki hak dasar yang tidak boleh diganggu. Sebuah hadis dari Abdullah bin Mas'ud berkata, "Rasulullah saw bersabda: (hal) yang pertama kali dibalas diantara manusia pada hari kiamat adalah masalah darah" (HR Bukhari dan Muslim).

Pada hari kiamat, dua hal pertama kali dihisab adalah sholat dan darah. Shalat adalah hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhannya, dan darah adalah hubungan horizontal antara manusia dengan Tuhannya. Dalam konteks ini, darah berarti hak hidup.

Ini adalah prinsip-prinsip utama yang terkandung dalam ajaran Nabi Muhammad Saw. Dengan menyampaikan nilai-nilai Tuhan dan mengajarkan ajaran cinta kasih kepada manusia, dia adalah utusan Allah ke dunia ini. Ajaran-ajarannya berlaku untuk semua masa. Beliau adalah seorang pejuang keadilan yang berjuang untuk perdamaian dan kesejahteraan global, jadi kehadiran dia adalah berita baik bagi semua orang.


Post a Comment

0 Comments
Post a Comment (0)
To Top